15 Contoh Puisi Baru Balada Dalam Bahasa Indonesia Paling Lengkap

Posted on

Puisi balada adalah salah satu jenis puisi baru yang bersifat objektif, yang menggambarkan perilaku seseorang lain lewat dialog maupun monolog sehinga mengandung gambaran kisah tertentu.

Beberapa pengertian puisi balada menurut ahli, antara lain:

Kosasih E dalam karya sastranya pada tahun 2003, mengatakan puisi balada termasuk dalam jenis puisi naratif yang mana puisi balada ini merupakan bentuk karya sastra yang menggunakan kata-kata indah dan kaya akan makna. Keindahan yang ada dalam puisi disebabkan oleh diksi , majas, rima dan irama yang terkandung dalam karya sastra tersebut.

Sedangkan menurut (Waluyo J Herman, 1991: 135), puisi balada adalah puisi yang berisi tentang orang-orang perkasa atau tokoh pujaan atau orang yang menjadi pusat perhatian. Puisi ini termasuk ke dalam jenis-jenis puisi naratif dimana puisi ini mengungkapkan cerita atau penjelasan penyair.

Berikut ini adalah beberapa contoh puisi balada yang dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi anda.

Puisi Balada

1. Balada Terbunuhnya Atmo Karpo
Karya: WS Rendra

Dengan kuku-kuku besi kuda menebah perut bumi
Bulan berkhianat gosok-gosokkan tubuhnya di pucuk-pucuk para
Mengepit kuat-kuat lutut menunggang perampok yang diburu
Surai bau keringat basah, jenawi pun telanjang

Segenap warga desa mengepung hutan itu
Dalam satu pusaran pulang balik Atmo Karpo
Mengutuki bulan betina dan nasibnya yang malang
Berpancaran bunga api, anak panah di bahu kiri

Satu demi satu yang maju terhadap darahnya
Penunggang baja dan kuda mengangkat kaki muka.

Nyawamu barang pasar, hai orang-orang bebal!
Tombakmu pucuk daun dan matiku jauh orang papa.

Majulah Joko Pandan! Di mana ia?
Majulah ia kerna padanya seorang kukandung dosa.

Anak panah empat arah dan musuh tiga silang
Atmo Karpo tegak, luka tujuh liang.

Joko Pandan! Di mana ia!
Hanya padanya seorang kukandung dosa.

Bedah perutnya tapi masih setan ia
Menggertak kuda, di tiap ayun menungging kepala

Joko Pandan! Di manakah ia!
Hanya padanya seorang kukandung dosa.

Berberita ringkik kuda muncullah Joko Pandan
Segala menyibak bagi derapnya kuda hitam
Ridla dada bagi derunya dendam yang tiba.

Pada langkah pertama keduanya sama baja.
Pada langkah ketiga rubuhlah Atmo Karpo
Panas luka-luka, terbuka daging kelopak-kelopak angsoka.

Malam bagai kedok hutan bopeng oleh luka
Pesta bulan, sorak sorai, anggur darah.

Joko Pandan menegak, menjilat darah di pedang
Ia telah membunuh bapaknya.

2. Balada Orang-orang Tercinta
Karya: W.S. Rendra

Kita bergantian menghirup asam
Batuk dan lemas terceruk
Marah dan terbaret-baret
Cinta membuat kita bertahan
dengan secuil redup harapan

Kita berjalan terseok-seok
Mengira lelah akan hilang
di ujung terowongan yang terang
Namun cinta tidak membawa kita
memahami satu sama lain

Kadang kita merasa beruntung
Namun harusnya kita merenung
Akankah kita sampai di altar
Dengan berlari terpatah-patah
Mengapa cinta tak mengajari kita
Untuk berhenti berpura-pura?

Kita meleleh dan tergerus
Serut-serut sinar matahari
Sementara kita sudah lupa
rasanya mengalir bersama kehidupan
Melupakan hal-hal kecil
yang dulu termaafkan

Mengapa kita saling menyembunyikan
Mengapa marah dengan keadaan?
Mengapa lari ketika sesuatu
membengkak jika dibiarkan?
Kita percaya pada cinta
Yang borok dan tak sederhana
Kita tertangkap jatuh terperangkap
Dalam balada orang-orang tercinta

3. Balada Ibu yang dibunuh
Karya: W.S. Rendra

Ibu musang di lindung pohon tua meliang
Bayinya dua ditinggal mati lakinya.

Bualan sabit terkait malam memberita datangnya
Waktu makan bayi-bayinya mungil sayang.

Matanya berkata pamitan, bertolaklah ia
Dirasukinya dusun-dusun, semak-semak, taruhan harian atas nyawa.

Burung kolik menyanyikan berita panas dendam warga desa
Menggetari ujung bulu-bulunya tapi dikibaskannya juga.

Membubung juga nyanyi kolik sampai mati tiba-tiba
Oleh lengking pekik yang lebih menggigitkan pucuk-pucuk daun
Tertangkap musang betina dibunuh esok harinya.

Tiada pulang ia yang mesti rampas rejeki hariannya
Ibu yang baik, matinya baik, pada bangkainya gugur pula dedaun tua.

Tiada tahu akan meraplah kolik meratap juga
Dan bayi-bayinya bertanya akan bunda pada angin tenggara

Lalu satu ketika di pohon tua meliang
Matilah anak-anak musang, mati dua-duanya.

Dan jalannya semua peristiwa
Tanpa dukungan satu dosa, tanpa.

4. Balada Pembungkus Tempe
Karya: W.S. Rendra

Fermentasi asa
Mengharap sempurna
Bentuk utuh nan konyol
Rasa, karsa tempe

Pembungkus yang berjasa
Penuh kisah bertulis duka lara
Dibuang tanpa dibaca

Pembungkus tempe
Bukan plastik tapi kertas usang tak terpakai
Masihkah ada yang membelai sebelum membuangnya?

5. Jante Arkidam
Karya: Ajip Rosidi

Sepasang mata biji saga
Tajam tangannya lelancip gobang
Berebahan tubuh-tubuh lalang dia tebang
Arkidam, Jante Arkidam

Dinding tembok hanyalah tabir embun
Lunak besi dilengkungkannya
Tubuhnya lolos di tiap liang sinar
Arkidam, Jante Arkidam

Di penjudian di peralatan
Hanyalah satu jagoan
Arkidam, Jante Arkidam

Malam berudara tuba
Jante merajai kegelapan
Disibaknya ruji besi pegadean

Malam berudara lembut
Jante merajai kalangan ronggeng
Ia menari, ia ketawa

‘Mantri polisi lihat kemari!
Bakar meja judi dengan uangku sepenuh saku
Wedana jangan ketawa sendiri!
Tangkaplah satu ronggeng berpantat padat
Bersama Jante Arkidam menari
Telah kusibak ruji besi’

Berpandangan wedana dan mantri polisi
Jante, jante Arkidam!
Telah dibongkarnya pegadaean malam tadi
Dan kini ia menari

‘Aku, akulah Jante Arkidam
Siapa berani melangkah kutigas tubuhnya batang pisang
Tajam tanganku lelancip gobang
Telah kulipat rujibesi’

Diam ketakutan seluruh kalangan
Memandang kepada Jante bermata kembang sepatu

‘Mengapa kalian memandang begitu?
Menarilah, malam senyampang lalu!’

Hidup kembali kalangan, hidup kembali perjudian
Jante masih menari berselempang selendang
Diteguknya sloki ke sembilan likur
Waktu mentari bangun, Jante tertidur

Kala terbangun dari mabuknya
Mantri polisi berdiri di sisi kiri:
‘Jante, Jante Arkidam, Nusa Kambangan!’

Digisiknya mata yang sidik
‘Mantri polisi, tindakanmu betina punya!
Membokong orang yang nyenyak’

Arkidam diam dirante kedua belah tangan
Dendamnya merah lidah ular tanah

Sebelum habis hari pertama
Jante pilin ruji penjara
Dia minggat meniti cahya

Sebelum tiba malam pertama
Terbenam tubuh mantri polisi di dasar kali
‘Siapa lelaki menuntut bela?
Datanglah kala aku jaga!’

Teriaknya gaung dilunas malam
Dan Jante di atas jembatan

Tak ada orang yang datang
Jante hincit menikam kelam

Janda yang lakinya terbunuh di dasar kali
Jante datang ke pangkuannya

Mulut mana yang tak direguknya
Dada mana tak diperasnya?

Bidang riap berbulu hitam
Ruas tulangnya panjang-panjang
Telah terbenam beratus perempuan
Di wajahnya yang tegap

Betina mana yang tak ditaklukannya?
Mulutnya manis jeruk garut
Lidahnya serbuk kelapa puan
Kumisnya tajam sapu ijuk
Arkidam, Jante Arkidam

Teng tiga di tangsi polisi
Jante terbangun ketiga kali
Diremasnya rambut hitam janda bawahnya

Teng kelima di tangsi polisi
Jante terbangun dari lelapnya
Perempuan berkhianat, tak ada di sisinya
Berdegap langkah mengepung rumah
Didengarnya lelaki menantang:
‘Jante, bangun! Kami datang jika kau jaga!’

‘Datang saja yang jantan
Kutunggu di atas ranjang’

‘Mana Jante yang berani
Hingga tak keluar menemui kami?’

‘Tubuh kalian batang pisang
Tajam tanganku lelancip pedang’
Menembus genteng kaca Jante berdiri di atas atap
Memandang hina pada orang yang banyak
Dipejamkan matanya dan ia sudah berdiri di atas tanah
‘He, lelaki mata badak lihatlah yang tegas
Jante Arkidam ada di mana?’

Berpaling seluruh mata ke belakang
Jante Arkidam lolos dari kepungan
Dan masuk ke kebun tebu
‘Kejar jahanam yang lari!’
Jante dikepung lelaki satu kampung
Di lingkung kebun tebu mulai berbunga
Jante sembunyi di lorong dalamnya

‘Keluar Jante yang sakti!’

Digelengkannya kepala yang angkuh
Sekejap Jante telah bersanggul

‘Alangkah cantik perempuan yang lewat
Adakah ketemu Jante di dalam kebun?’

‘Jante? Tak kusua barang seorang
Masih samar dilorong dalam’

‘Alangkah eneng bergegas
Adakah yang diburu?’

‘Jangan hadang jalanku
Pasar kan segera usai!’

Sesudah jauh Jante dari mereka
Kembali dijelmakan dirinya

‘He, lelaki sekampung bermata dadu
Apa kerja kalian mengantuk di situ?’

Berpalingan lelaki ke arah Jante
Ia telah lolos dari kepungan

Kembali Jante diburu
Lari dalam gelap
Meniti muka air kali
Tiba di persembunyiannya

6. Perempuan yang Tergusur

Hujan lebat turun di hulu subuh
disertai angin gemuruh
yang menerbangkan mimpi
yang lalu tersangkut di ranting pohon

Aku terjaga dan termangu
menatap rak buku-buku
mendengar hujan menghajar dinding
rumah kayuku.
Tiba-tiba pikiran mengganti mimpi
dan lalu terbayanglah wajahmu,
wahai perempupan yang tergusur!

Tanpa pilihan
ibumu mati ketika kamu bayi
dan kamu tak pernah tahu siapa ayahmu.
Kamu diasuh nenekmu yang miskin di desa.
Umur enam belas kamu dibawa ke kota
oleh sopir taxi yang mengawinimu.
Karena suka berjudi
ia menambah penghasilan sebagai germo.

Ia paksa kamu jadi primadona pelacurnya.
Bila kamu ragu dan murung,
lalu kurang setoran kamu berikan,
ia memukul kamu babak belur.
Tapi kemudian ia mati ditembak tentara
ketika ikut demontrasi politik
sebagai demonstran bayaran.

Sebagai janda yang pelacur
kamu tinggal di gubuk tepi kali
dibatas kota
Gubernur dan para anggota DPRD
menggolongkanmu sebagai tikus got
yang mengganggu peradaban.
Di dalam hukum positif tempatmu tidak ada.
Jadi kamu digusur.

Didalam hujuan lebat pagi ini
apakah kamu lagi berjalan tanpa tujuan
sambhil memeluk kantong plastik
yang berisi sisa hartamu?
Ataukah berteduh di bawah jembatan?

Impian dan usaha
bagai tata rias yang luntur oleh hujan
mengotori wajahmu.
kamu tidak merdeka.
Kamu adalah korban tenung keadaan.
Keadilan terletak diseberang highway yang bebahaya
yang tak mungkin kamu seberangi.

Aku tak tahu cara seketika untuk membelamu.
Tetapi aku memihak kepadamu.
Dengan sajak ini bolehkan aku menyusut keringat dingin
di jidatmu?

O,cendawan peradaban!
O, teka-teki keadilan!

Waktu berjalan satu arah saja.
Tetapi ia bukan garis lurus.
Ia penuh kelokan yang mengejutkan,
gunung dan jurang yang mengecilkan hati,
Setiap kali kamu lewati kelokan yang berbahaya
puncak penderitaan yang menyakitkan hati,
atau tiba di dasar jurang yang berlimbah lelah,
selalu kamu dapati kedudukan yang tak berubah,
ialah kedudukan kaum terhina.

Tapi aku kagum pada daya tahanmu,
pada caramu menikmati setiap kesempatan,
pada kemampuanmu berdamai dengan dunia,
pada kemampuanmu berdamai dengan diri sendiri,
dan caramu merawat selimut dengan hati-hati.

Ternyata di gurun pasir kehidupan yang penuh bencana
semak yang berduri bisa juga berbunga.
Menyaksikan kamu tertawa
karena melihat ada kelucuan di dalam ironi,
diam-diam aku memuja kamu di hati ini.

7. Di Mana Kamu, De’Na?
Karya: WS Rendra

Akhirnya berita itu sampai kepada saya:
gelombang tsunami setinggi 23 meter
melanda rumahmu.
Yang tersisa hanyalah puing-puing belaka.
Di mana kamu, De’Na?
Sia-sia teleponku mencarimu.
Bagaimana kamu, Aceh?
Di TV kulihat mayat-mayat
yang bergelimpangan di jalan.
Kota dan desa-desa berantakan.
Alam yang murka
manusia-manusia terdera
dan sengsara.

Di mana kamu, De’Na?
Ketika tsunami melanda rumahmu
apakah kamu lagi bersenam pagi
dan ibumu yang janda
lagi membersihkan kamar mandi?

De’Na, kita tak punya pilihan
untuk hidup dan mati.
Namun untuk yang hidup
kehilangan dan kematian
selalu menimbulkan kesedihan.
Kecuali kesedihan, selalu ada pertanyaan:
kenapa hal itu mesti terjadi
dengan akibat yang menimpa kita?

Memang ada kedaulatan manusia, De’Na.
Tetapi lebih dulu
sudah ada daulat alam.
Dan kini kesedihanku yang dalam
membentur daulat alam.
Pertanyaanku tentang nasib ini
merayap mengitari alam gaib yang sepi.

De’Na! De’Na!
Kini kamu jadi bagian misteri
yang gelap dan sunyi.
Hidupku terasa rapuh
oleh duka, amarah, dan rasa lumpuh.
Tanpa kejernihan dalam kehidupan
bagaimana manusia bisa berdamai
dengan kematian?

8. Dongeng Marsinah
Karya: Sapardi Djoko Damono

/1/

Marsinah buruh pabrik arloji
mengurus presisi:
merakit jarum, sekrup, dan roda gigi;
waktu memang tak pernah kompromi
ia sangat cermat dan pasti.

Marsinah itu arloji sejati,
tak lelah berdetak
memintal kefanaan
yang abadi:
“kami ini tak banyak kehendak
sekadar hidup layak,
sebutir nasi.”

/2/

Marsinah, kita tahu, tak bersenjata,
ia hanya suka merebus kata
sampai mendidih,
lalu meluap ke mana-mana.
“Ia suka berpikir,” kata Siapa,
“itu sangat berbahaya.”

Marsinah tak ingin menyulut api,
ia hanya memutar jarum arloji
agar sesuai dengan matahari.
“Ia tahu hakikat waktu,” kata Siapa,
“dan harus dikembalikan
ke asalnya, debu.”

/3/

Di hari baik bulan baik,
Marsinah dijemput di rumah tumpangan
untuk suatu perhelatan.
Ia diantar ke rumah Siapa,
a disekap di ruang pengap,
ia diikat di kursi,
mereka kira waktu bisa disumpal
agar lengkingan detiknya
tidak kedengaran lagi.
Ia tidak diberi air,
ia tidak diberi nasi,
detik pun gerah
berloncatan ke sana ke mari.
Dalam perhelatan itu,
kepalanya ditetak,
selangkangannya diacak-acak,
dantubuhnya dibirulebamkan
dengan besi batangan.
Detik pun tergeletak,
Marsinah pun abadi.

9. PENANTIAN

Hembus angin menerpa rambutku

Menyeruakkan harum melati

Membangunkanku dari lamunan

Dan ku sadari aku tlah lama menunggu

1 jam

2 jam

Tidak!!! Lebih dari itu ku tlah menunggu

Dan sampai saat ini aku tetap menunggu

Pandang ku lempar nun jaun disana

Tak ada tanda-tanda kedatanganmu

Dibawah pohon palem ini

Disamping bunga melati ini

Aku menunggumu..

10. MUNGKIN PERTEMUAN

Jika tak ada aral, kita kan bertemu

Sebelum sunyi memetik pagi

Dan mimpi belum pergi dari janji

Aku berangkat kali ini, sehabis minum secangkir kopi

Dan sisa tembakau malam tadi

Setengah perjalanan adalah bukit dimana tempat kita

Mencatat pepohonan yang tumbang

Jalan yang terjal

Batuan yang bebal

Ini adalah pilihan, ujarku

Kelanalah aku

Mungkin kau menanti

11. Balada Perempuan-Perempuan Berarit

Surya masih mengeriyip kedip

Caping tersemat di ubun-ubun

Jatik terikat kuat

Dengan telanjang kaki

Arit dalam genggaman kuat

Menyusuri setapak becek yang remang

Langkah cepat-cepat keburu surya menggarang

Dia tak sendiri

Lima sampai sepuluh perempuan macam itu dihamparan emas yang berkilau

Tersepuh embun nan menyegarkan indera

Lekas-lekas tangan-tangan yang kurus dan hitam

Mulai menggenggam dan mengariti hamparan emas nan kemilau

Surya merangkak nan malas namun berarti

Berakibat melahirkan peluh-peluh di punggung

Yang berbalut kebaya tipis bak bengawan

Tak usahlah risaukan

Yang sekarang diutamakan

Segera rebut emas yang menguning

Raja siang tak lagi tersepuh hawa yang sejuk

Raja siang terpelese ke barat

Mencoba menampakkan wajah dengan susah payah

Mendung-mendung tak mau menyingkir

Sedikit hembusan udara yang membelai

Mengurangi derasnya aliran bengawan

Karena si raja siang sudah semakin terpuruk

Lekas-lekaslah mereka harus merampungkan

Urusan emas ini, agar esok pagi

Dilaksanakannya hitungan pembagian

12. Balada Kehilangan

Karto membawa tubuh yang kecil

Dan kepala yang kecil pula

Ke tengah samudera

Mempertaruhkan nyawa

Tiga malam sudah Karto tak kembali

Sanak dan kawan pada mencari

Tak ketemu kabar berita

Sampan pun tak kembali rupa

Tak ada kabar jua dari seberang

Karto telah ditelan gelombang

Tinggalkan semua yang tersayang

13. BUNDA

Engkau adalah wanita
Yang sangat luar biasa…
Kasih sayangmu untukku,
Begitu besar sekali…
Oh bunda….
Engkaulah yang selalu merawatku…
Menjagaku…
Dan menyayangiku…
Kasih sayangmu untukku
Seperti sang surya
Yang menyinari dunia
Engkau tidak meminta balas budi
Apapun dariku…
Bunda…
Engkau sangat tulus merawatku
Dari aku masih dikandunganmu
Sampai aku dewasa…
Bunda…
Engkau sangat berarti bagiku
Tidak akan ada yang bisa menggantikanmu,
Dihatiku selamanya…

14. BALADA AYAH

Ayah . . .

tak akan pernah ada pepatah

yang sanggup ungkapkan rasa mewah

tentang perjuanganmu yang tertimbun lelah

Engkau yang terlihat tegar

terus berusaha kuatkan pagar

meski lelah harus terpancar

kau terus tancapkan layar

Saat kau pergi berlari

kami tahu kau sedang hindari

tak ingin perlihatkan kau yang sendiri

agar kami semakin kokoh berdiri

Bahkan saat kini kau renta

senyummu tetap hangat menyapa

isyaratkan kami dalam doa

menjunjung kami menuju surga

15. Ballada Sumilah

Tubuhnya lilin tersimpan di keranda

Tapi halusnya putih pergi kembara

Datang yang berkabar bau kemboja

Dari sepotong bumi keramat di bukit

Makam dari bau kemenyan

Sumilah!

Rintihnya tersebar selebar tujuh desa

Dan di ujung setiap rintih diserunya

-Samijo! Samijo!

Bulan akan berkerut wajahnya

Dan angina takut nyuruki atap jerami

Seluruh kandungan malam pada tahu

Roh Sumilah meratap dikungkung rindunya

Pada roh Sumijo kekasihdengan belati pada mata.

Dan sepanjang malam terurai riwayat duka

Bagini mulanya:

Bila pucuk bamboo ngusapi wajah bulan

Ternak rebah dan bunda-bunda nepuki paha anaknya

Dengan kembang-kembang api jatuh peluru meriam pertama

Malam muntahkan serdadu Belanda dari utara

Tumpah darah lelaki

O kuntum-kuntum delima ditebas belato

Dan para pemuda beibukan hutan jati

Tertinggal gadis terbawa hijaunya warna sepi

Demi hati berumahkan tanah ibu

Dan pancuran tempat bercinta

Samijo berperang dan mewarnai malam

Dengn kuntum-kuntum darah

Perhitungan dimulai pada mesiu dan kelewang

Terkunci pintu jendela

Gadis-gadis tertinggal menaikkan kain dada

Ngeri mengepung hidup hari-hari

Segala perang adalah keturunan dendam

Sumber air pancar yang merah

Bebungan berwarna nafsu

Dinginnya angina pucuk pelor, dinginnya mata baja

Reruntuklah semua merunduk

Bahasa dan kata adalah batu yang dungu

Maka satu demi satu meringkas rumah-rumah jadi abu

Dan perawan-perawan menangisi malamnya tak ternilai

Kerna musuh tahu benar arti darah

Memberi minum dari sumber tumpah ruah

Nyawanya kijang diburu terengah-engah

Waktu siang mentari menyedap peluh

Dengan bongkok berjalan nenek suci Hassan Ali

Di satu semak menggumpal daging perawan

Maka diserunya bersama derasnya darah:

-Siapa kamu?

-Daku Sumilah daku mendukung duka!

Belanda berbulu itu membongkar pintu

Dikejar daku putar-putar sumur tapi kukibas dia

-Duhai diperkosanya dikau anak perawan!

-Belum lagi! Demi air daraku merah belum lagi!

Takutku punya dorongan tak tersangka

Tersungkur ia bersama nafsunya kesumur

-O tersobek kulitmu lembut berbungakan darah

Koyak-moyak bajumu muntahkan dadamu

Lenyaplah segala kerna tiada lagi kau pumya

Bunga yang terpitih dengan kelopak-kelopak sutra

-Belum lagi! Demi air daraku merah: belum lagi!

Demi berita noda teramat cepat karena angina sendiri

Di mulut tujuh desa terucap Sumilah dan nodanya

Dan demi berita noda teramat cepat karena angina sendiri

Noda Sumilah terpahat juga di hutan-hutan jati

Lelaki-lelaki letakkan bedil kelewang mengenangnya

Dan Samijo kerahkan segenap butir darah

Lebih setan dari segala kerbau jantan

Bila dukanya terkaca pada bulan keramik putih

Antara bebatang jati dengan rambut tergerai

Sumilah yang malang mendamba Samijonya

Menyuruk musang, burung gandil nyanyikan balada hitam

Satu tokoh menonggak di tempat luang

Dan berseru dengan nada api nyala:

-Berhenti! Sebut namamu!

Terhenti Sumilah serahkan diri ke batang rebah:

-Suaramu berkabar kau Samijo, Samijoku

Daku Sumilah yang malang, Sumilahmu

-Tiada kupunya Sumilah. Sumilahku mati!

-Belum lagi, Samijo! Aku masih dara!

Bulan keramik putih tanpa dara

Warna jingga apimu. Padamkan!

Demi selaput sutraku lembut: belum lagi!

Bulan keramik putih bagai pisau cukur

Sayati awan dan malam yang selalu meratap

Samijo menatap dan menatap amat tajamnya

-Samijo, ambil tetesan darahku pertama

Akan terkecap daraku putih, daramu seorang

Batang demi batang adalah balutan kesepian

Malam mengempa segala terperah sendat napas

Samijo menatap dan menatap amat tajamnya

-Samijo, hentikan penikaman pisau pandang matamu

Kau bantai daku bagai najis, mengorek dena yang tiada

Padamlah padam kemilau yang menuntut dari dendam

Warna pandangnya seolah ungkapan kutuk berkata:

-Jadilah perempuan mandul kerna busuk rahimmu

Jadilah jalang yang ngembara dari hampa ke dosa

Aku kutuki kau demi kata putus nenek moyang!

Tanpa omong dilepas tikaman pandang penghabisan

Lalu berpaling ia menghambur ke jantung hutan jati

Tertingga! Sumilah digayuti koyak-moyaknya

Sedihlah yang bercinta kerna pisah

Lebih sedihlah bila noda terbujur antaranya

Dan segalanya itu tak’kan padam

Kokok ayam jantan esoknya bukanlah tanda menang

Adalah ratap yang juga terbawa oleh kutilang

Karena warga desa jumpai mayat Samijo

Nemani guguran talok depan tangsi Belanda

Merataplah semua meratap

Kerna yang mati menggenggam dendam

Di katup rahang adalah kenekatan linglung tersia

Kerna dendamnya siksa air matanya terus kembara

Menatap kehadiran Sumilah, dinginya tanpa percaya

Dan Sumilah jadi gila terkempa dada oleh siksa

Gadis begitu putih jumpai ajalnya di palung sungai

Sumilah! Sumilah!

Tubuhnya lilin tersimpa di keranda

Tapi halusnya putih pergi kembara

Rintihnya tersebar selebar tujuh desa

Dan di ujung setiap rintih diserunya:

-Samijo! Samijo!

Matamu tuan begitu dingin dan kejam

Pisau baja yang mengorek noda dari dada

Dari tapak tanganmu angina napas neraka

Mendera hatiku berguling lepas dari rongga

Bulan jingga, telaga kepundan jingga

Hentikan, Samijo! Hentikan, ya tuan!

Itulah berbagai contoh jenis puisi balada yang bisa dijadikan sebagai sumber literatur untuk anda. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan anda dalam dunia pendidikan, khususnya Bahasa Indonesia.

Content Protection by DMCA.com